Spion-spion Rusia setelah penyergapan Sergei Egorov

Asisten atase militer us dan manajer umum aeroflot diusur karena terlibat kegiatan mata-mata dengan pamenjawatan hydrografi dan oceanografi mbal, letkol. soesdarjanto. (nas) TAK ada pistol yang ditodongkan. Tak ada perkelahian. Kisah penangkapan Letkol Sergei Egorov, Asisten Atase Militer pada Kedubes Uni Soviet di Jakarta 4 Februari 1982 berlangsung kalem saja. Malam itu, sebuah Honda Civic meluncur dari arah barat memasuki Jalan Pemuda. Tepat di seberang Restoran Jawa Tengah yang halaman parkirnya masih kelihatan lega, pengemudinya, Egorov, memarkir mobil itu di pinggir jalan. Ia jangkung, mengenakan kemeja lengan pendek biru muda dan celana krem. Ia menyeberang Jalan Pemuda dan memasuki restoran. Setelah melihat keliling, ia memilih meja nomor 27 di bawah tenda paling ujung timur, salah satu dari tujuh tenda yang dipancang di halaman restoran. Begitu pelayan menghampirinya, Egorov — sambil meletakkan tas kulit kecil yang ditentengnya — memesan sebotol bir kecil. Nampaknya ia tak tahu: beberapa tamu lain yang tengah makan di ruang AC berdinding kaca bagian tengah restoran, sebenarnya terus-menerus mengawasi gerak-geriknya. Menjelang bir di gelas Egorov habis, sekitar pukul 20.00, seorang berperawakan kekar, berkulit hitam manis, turun dari taksi kuning di depan restoran. Ia langsung mengambil tempat duduk di depan Egorov. Pembicaraan kelihatan serius. Hanya sesekali keduanya saling tersenyum. “Mereka berbicara dalam bahasa Inggris,” kata seorang pelayan kemudian. Ketika pelayan itu mendekatinya sambil menyodorkan kertas, orang yang kemudian disebut sebagai Letkol Soesdarjanto itu langsung bertanya pada Egorov, “Anda mau memesan apa lagi?” Setelah mendapat jawaban, Soesdarjanto memanggil pelayan di sampingnya. “Dik, 20 tusuk sate ayam, satu lontong, sepiring nasi, air jeruk satu dan bir kecil sebotol lagi,” katana. Lalu sambil makan, mereka melanjutkan pembicaraan. Jam menunjukkan pukul 20.30. Dua botor bir kecil kosong. Begitu juga air jeruk Soesdarjanto. Cuma Egorov nampaknya hanya menyantap sate. Nasiputih yang dipesannya tidak disentuh. Mereka memanggil pelayan. Rekening yang disodorkan sebesar Rp 5.650. Seluruhnya dibayar Egorov. Soesdarjanto kemudian meninggalkan Egorov –juga tanpa salaman atau basa-basi. Diplomat Uni Soviet itu sebaliknya masih tetap duduk sambil menghabiskan rokoknya. Baru setelah itu Egorov berdiri. Tapi ketika ia mau menyambar tas kecil yang terletak di atas meja, tiga jip berwarna hijau apel berdatangan. Sebuah langsung masuk halaman parkir. Satu berhenti di depan pintu gerbang. Sebuah lagi menghadang di depan pintu kecil–tepat di belakang tempat duduk Egorov. Seketika itu pula beberapa orang berbadan tegap dan berpakaian preman langsung mengepungnya. Begitu pula tamu yang makan sambil mengawasinya di ruang AC juga ikut bergerak. Mereka langsung merubung Egorov. Setelah berbicara seperlunya, tanpa todongan pistol, Egorov digiring ke jip yang diparkir di halaman. Penyergapan sendiri berlangsung kurang dari dua menit. Sesudah dua jip (termasuk yang membawa Egorov) berangkat, beberapa orang — yang ternyata adalal- an,ota intelijen Laksusda Jakarta Raya–tinggal untuk memeriksa meja dan sekitarnya, Sate masih tersisa dua tusuk. Nasi putih tertinggal sepiring. Kelihatannya tidak ada hal yang mencurigakan sepeninggal Egorov dari restoran itu. Semuanya beres. Bahkan tamu lain yang makan di ruang tengah juga tidak mengetahui ada penangkapan diplomat yang dituduh melakukan jual-beli dokumen rahasia militer di meja nomor 27 itu. Kamis malam itu juga, Egorov diperiksa oleh Komando Garnizun (Kogar) Ibukota. “Petugas menanyainya sampai pagi,” kata sumber TEMPO di Skogar. Tentu saja pemeriksaan intensif itu juga diselingi beberapa kali istirahat. Selama pemeriksaan, Egorov juga ditawari makan dan minum. Orang Rusia itu menolaknya. Ia hanya mengisap rokok yang dibawanya sendiri. Apakah ia mengaku? Tak diketahui secara pasti. Tapi banyak yang diungkap selama pemeriksaan. Kabarnya, Egorov telah melakukan jual beli dokumen rahasia negara, yang menyangkut keamanan, dengan perwira menengah Soesdarjanto. Ketika ditangkap, ia membawa film dan kamera yang sebelumnya dipakai Soesdarjanto memotret sejumlah dokumen rahasia. Dalam film itu, konon, ditemukan antara lain peta laut Indonesia — antara lain jalur-jalur strategis Kepulauan Natuna dan Indonesia Timur, serta sifat lautnya. Tapi Asisten Atase Militer Kedubes Uni Soviet itu juga mengaku bahwa ia baru pertana kali bertemu Soesdarjanto malam itu. Menurut Pelaksana Khusus Panglima Kopkamtib Daerah Jakarta Mayjen Norman Sasono dalam penjelasannya 9 Februari lalu, pertemuan dengan Soesdarjanto sebelumnya dilakukan oleh Alexandre Finenko. Ia adalah manajer umum dinas penerbangan Uni Soviet Aeroflot di Jakarta. Peralatan yang diberikan kepada Soesdaryanto, menurut sumber TEMPO di Skogar, sebenarnya sederhana saja: hanya berbentuk alat pemotret biasa yang diperlengkapi dengan peralatan elektronik. Dengan alat itu, pemakainya bisa mengambil gambar di tempat yang gelap. “Ukurannya sebesar kamera biasa,” kata sumber itu. Sedang alat penerima dan pemancar yang disita juga tergolong bersahaja. Berukuran seperti radio kira-kira 10 x 15 cm, alat itu menggunakan gelombang khusus. Gunanya untuk kontak antara Soesdarjanto dan “pemberi tugas”. Diperkirakan, bahwa diplomat Rusia itu sengaja memberinya alat sederhana agar Soesdarjanto tidak perlu belajar secara khusus untuk penggunaannya. Dugaan yang paling logis ialah bahwa Uni Sovlet agaknya sedang mengmginkan peta laut Indonesia. Soesdarjanto bertugas di Jawatan Hydrografi dan Oceanografi Markas Besar Angkatan Laut (MBAL). Menurut Norman Sasono, perwira menengah Angkatan Laut ini didekati dan dibina sejak 5 tahun lalu, “Sebagai negara super power, Uni Soviet yang mempunyai Angkatan Laut yang tangguh, sangat mernerlukan peta itu,” kata pejabat tinggi Hankam pada TEMPO. Tak diketahui bersediakah Egorov mengaku pula tentang itu. Yang pasti, setelah selesai pemeriksaan, dan diketahui bahwa ia berstatus diplomat, Egorov dibebaskan Jumat pagi. Sementara itu, hasil pemeriksaan juga disampaikan kepada Departemen Luar Negeri. Hari itu Egorov, didampingi dua staf Kedubes Uni Soviet–seorang berkemeja batik kuning dan seorang lagi safari abuahu — dipanggil Dirjen Protokol Joop Ave. Isi pertemuan Egorov diberitahu untuk segera meninggalkan Indonesia. Pada hari yang sama, Menlu Mochtar Kusumaatmadja juga memanggil Dubes Uni Soviet Ivan F. Shpedko. Pemerintah Indonesia menyatakan protes dan persona non grata untuk Egorov. Mochtar juga meminta, agar diplomat yang terlibat kegiatan mata-mata itu segera meninggalkan Indonesia dalam jangka waktu 48 jam. Namun Deplu “berjanji” untuk tidak mengumumkan peristiwa itu kepada umum demi hubungan baik kedua negara. Kedua pihak lega sampai hari itu. Kedubes Uni Soviet mengatur keberangkatan Egorov tanggal 6 Februari dengan pesawat Garuda, GA 968 pukul 18.00. Tapi pada penerbangan yang sama, muncul Alexandre Finenko yang justru sedang diincar petugas keamanan karena keterlibatannya dengan kegiatan Egorov. Dengan tenang ia menenteng dua tas kecil dan memberi upah Rp 500 kepada kuli yang membantu mengangkut barangnya ke ruang pasasi. Ia bersama istrinya diantar empat orang staf Kedubes Uni Soviet. SETELAH Finenko menyodorkan paspor dan exit permit, petugas imigrasi yang duduk di dalam loket mengamatinya. Petugas ini juga mencocokkan namanya dengan “daftar hitam” yang terpasang di balik mejanya. Karena yakin Finenko sedang dicari petugas keamanan, ia disuruh “mampir” di ruang imigrasi. Maksudnya, urusannya agar diselesaikan di tempat yang tidak ditonton umum itu. Tapi apa yang terjadi Pimpinan Aeroflot Jakarta itu menolak. Ia tambah gusar ketika seorang petugas imigrasi yang berjaga di luar loket menghardiknya dengan memegang tangannya. Finenko mendorong petugas itu dan serta merta empat orang pengawalnya ikut “membebaskannya”. Perkelahian terjadi. Beberapa petugas imigrasi luka. Kaca di sekitarnya berantakan. Seorang pengawal Finenko yang berbadan kekar tergores dahinya. Suasana menjadi panas. Penerbangan Garuda malam itu tertunda beberapa saat. Perkelahian berakhir setelah petugas keamanan terdiri dari polisi dan POM ABRI datang. Finenko diringkus. Ia dibawa ke ruang tertutup bandar udara Halim Perdanakusumah. Di tempat itu sudah menunggu pejabat Laksusda dan Kejaksaan untuk memeriksanya. Sedang pengawalnya, G.M. Odariouk, ngotot ikut mendampingi Finenko. Sebagai pemeriksaan lanjutan di ruang tertutup Halim PK, Finenko dan Odariouk diangkut ke Kogar Ibukota. Perkelahian itu agaknya membuyarkan rencana Pemerintah Indonesia untuk menutupi kasus mata-mata oleh diplomat Rusia itu. “Jelas kelihatan, dari kejadian itu, usaha petugas keamanan, agar penangkapan terhadap Finenko dapat dilakukan tanpa diketahui umum, telah gagal karena sikap agresif pejabat-pejabat Kedubes Uni Soviet,” bunyi pernyataan Deplu yang dikeluarkan dua hari sesudahnya. Berita penahanan Finenlco dan Odariouk langsung diketahui pejaat Kedubes Uni Soviet. Malam itu, pukul 21.00 beberapa pihak Kedubes Uni Soviet menghubungi Dirjen Protokol dan Konsuler, Joop Ave. Mereka memprotes keras kejadian di Halim PK dan menuntut agar Finenko (bukan diplomat) dan Odariouk, diplomat berpangkat atase, dibebaskan. Sekitar pukul 02.30 hari Jumat, Dubes Ivan F. Shpedko membawa rombongan sepuluh orang dengan tiga mobil ke Kogar Ibukota. Dubes dan pembantunya lebih dulu berdebat sengit dengan petugas keamanan, untuk meminta agar kedua warganya dibebaskan. Karena perdebatan buntu, Dubes Shpedko langsung menelepon Menlu Mochtar Kusumaatmadja. Ia memprotes dan meminta agar kedua orang itu dibebaskan. Menlu tidak keberatan Odariouk yang berstatus diplomat dilepas. Rupanya protes tidak berhenti dengan dibebaskannya Odariouk. Minggu pagi, 7 Februari, Kedubes Uni Soviet menemui Joop Ave lagi. Isinya, menunttut agar Finenko yang sakit asma dibebaskan. Bahkan Finenko mengancam akan melakukan mogok makan. Tapi pihak Indonesia cepat memberi jawaban. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Finenko tidak mengidap sakit asma. Rentetan protes atas penangkapan Finenko yang dituduh terlibat dalam kegiatan mata-mata terus dilempar Kedubes Uni Soviet di Jakarta. Tanggal 8 Februari malam, Menlu Mochtar memanggil Dubes Shpedko yang didampingi Wakil Kepala Perwakilan A.l. Khmelnitski dan seorang staf. Dalam pertemuan hampir dua jam di ruang kerjanya, Mochtar — didampingi pejabat terasnya–Indonesia balik protes. “Indonesia menyatakan protes keras terhadap perilaku para pejabat diplomatik Kedubes Uni Soviet di Jakarta. Indonesia juga kecewa karena pejabat diplomatik itu tidak bertindak untuk memajukan hubungan baik dengan negara tuan rumah dan menaati hukum yang berlaku di sini,” bunyi pernyataan Deplu yang disiarkan selesai pertemuan itu. DEPLU, yang sebelumnya berniat menunda pengumuman mengenai persona non grata bagi Egorov, agaknya terpaksa buru-buru mengumumkannya karena sikap keras para diplomat Soviet. Apalagi malam itu wartawan berdatangan dan mendesak untuk meminta keterangan mengenai kasus ‘pengusiran’ diplomat Rusia itu. “Sebetulnya kami belum siap mengumumkan sekarang,” kata seorang pejabat tinggi Deplu. Agaknya pemerintah mau lebih hati-hati–khawatir kemungkinan mendapat balasan bagi diplomat Indonesia di Moskow. Rabu pagi minggu lalu, sekitar 160 pemuda dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) mendatangi kantor Kedubes Uni Soviet di Jalan M.H. Thamrin. Dengan poster-poster: “Tutup hubungan diplomatik dengan Rusia”, “Tutup Aeroflot”, “Kedutaan Rusia sarang mata-mata” dan lain-lain, mereka memprotes kegiatan mata-mata Egorov dan Finenko. Namun pihak Kedubes Uni Soviet tetap merapatkan pintu gerbangnya yang dibuka dan ditutup secara otomatis itu. Setelah berteriak-teriak, akhirnya Wakil Kepala Perwakilan A.l. Khmelnitski membolehkan lima orang anggota KNPI yang dipimpin oleh Ketua Umum Aulia Rachman dan Sekjen Theo Sambuaga masuk. Untuk pertama kali, Kedubes Rusia buka mulut menanggapi kasus ini. Kepada delegasi KNPI, Khmelnitski tidak membenarkan tindakan Egorov dan Finenko sebagai kegiatan mata-mata. ahkan ia menuduh pemberitaan mengenai masalah itu tidak far sama sekali. Dan ditambahkan, Pemerintah Uni Soviet sama sekali tidak berkeinginan untuk mengurangi hubungan baik kedua negara. Karena belum puas, “demonstran teratur” KNPI melanjutkan aksinya. Sebagian, di bawah pimpinan Theo ambuaga, mendatangi kantor Aeroflot di Hotel Sahid Jaya. Mereka cuma menemukan pintu kaca yang terkunci. Tidak ada jalan lain kecuali menempelkan poster protes yang menuntut agar kantor penerbangan itu ditutup. Demonstran yang diawasi langsung oleh Norman Sasono itu sebagian juga mendatangi Deplu. Mereka disambut sendiri oleh Menlu Mochtar. Tidak banyak pernyataan disampaikan kecuali mendukung tindakan pemerintah mengusir Egorov dan menahan Finenko. Tapi mereka juga menyatakan kekesalannya karena hanya lima orang yang diperbolehkan menginjak halaman Kedubes. Aksi protes serupa juga muncul di depan Konsulat Uni Soviet, Jalan Karim M.S. Medan 10 Februari lalu. Pesertanya sebanyak 26 orang, juga anggota KNPI yang dipimpin ketuanya Bomer Pasaribu Isinya juga sama, memprotes tindakan mata-mata Egorov, perkelahian antara diplomat dan petugas keamiman di Halim PK dan siaran radio Mosl..w vang tidak bersahabat. Konsul Valentine F. Popov hanya bersedia mencrima tiga orang peserta demonstrasi itu. Gerakan lebih seru muncul dua hari kemudian, Sekitar 2.000 pemuda yang tergabung dalam Pemuda Pancasila Sum-Ut berkumpul di depan markasnya. Rencananya, mereka akan menyerbu dan menduduki konsulat Rusia. Tapi petugas keamanan lebih cepat bertindak. Sebagai pelampiasan mereka cuma membakar patung Leonid Brehnev. Reaksi serupa juga muncul dari kalangan anggota DPR. Para wakil itu mempermasalahkan terlalu besarnya staf dan kantor Uni Soviet di Indonesia. Kecuali kantor pusat Jakarta, Uni Soviet memang juga punya konsulat di Medan, Surabaya dan Banjarmasin–yang oleh Menteri Mochtar sendiri sudah diminta agar ditutup dan dijual, karena “sudah tidak ada relevansina”. Yang agak sukar ialah mempersoalkan jumlah personil. Rusli Desa, wakil dari FKP, misalnya. mempermasalahkan jumlah personil Perwakilan Uni Soviet yang dianggapnya terlalu besar. “Jumlah mereka lima kali lebih besar dari diplomat kita,” katanya. Memang: menurut sumber TEMPO di Deplu, jumlah diplomat beserta staf I-dubes Uni Soviet (semua orang sana) ada 80 orang. Jumlah ini konon lebih besar dibanding personil di Kedubes Uni Soviet untuk Amerika Serikat. Diplomat dan staf di KBRI Moskow sebaliknya cuma 24 orang. Nampaknya, Indonesia memang tetap hendak menjaga agar peristiwa spionase ini tak sampai merusak sama sekali hubungan kedua negara. Dalam hubungan itu, tentu agak sukar untuk menjaga kesopanan diplomatik di satu pihak dan menindak seorang tamu asing di lain pihak. Hal ini misalnya terjadi dengan kasus Finenko. Beberapa pihak mempermasalahkan, mengapa Finenko yang sudah menjadi buron petugas keamanan itu mendapat exit permit untuk meninggalkan Indonesia bersama keluarganya. “Soal memberi exit permit, itu jadi tanggungjawab saya,” kata Joop Ave sambil menepuk dadanya. “Exit permit diberikan sebelum ada kasus ini,” katanya pula. Sementara itu, pejabat keamanan baru memberitahu tentang terlibatnya Finenko dengan kegiatan matamata sesudah exit permit diberikan. Hanya “daftar hitam” yang akhirnya mencegat Finenko di loket imigrasi bandar udara Halim. Masa tugas Finenko–sejak 1979-memang berakhir 5 Februari 1982. Berakhirnya masa tugas itu, menurut perwira tinggi Laksusda Jaya yang menanganinya, berkaitan dengan pertemuan Soesdarjanto dan Egorov malam itu. Selama ini adalah Finenko, yang kabarnya termasuk anggota intelijen militer (GRU) kelas berat, yang bertugas membina dan menghubungi Soesdarjanto. “Karena masa tugasnya akan berakhir, Ia menyerahkan tongkat estafet kepada Egorov. untuk melanjutkan,” katanya. Berdasarkan pemeriksaan yang berlangsung hampir seminggu, aparat keamanan yakin Finenko terlibat dalam kegiatan mata-mata. Norman Sasono sendiri mengumumkan, Finenko dan Soesdarjanto akan diajukan ke pengadiian subversi. Tapi kemudian niat mengadilinya ternyata urung. Senin pekan ini, Pangkopkamtib Laksamana Sudomo mengumumkan bahwa Finenko dibebaskan dari tahanan dan dipulangkan ke negerinya secara diam-diam tanggal 13 Februari lalu. Pembebasan dan pemulangan Finenko, menurut Sudomo, bukan karena tekanan atau ancaman Uni Soviet. Hal itu semata-mata karena kesehatan Finenko –yang tiba-tiba mogok makan–kian memburuk “Sekalipun demikian, Indonesia tetap mengambil tindakan dengan ketentuan diplomatik,” katanya. Tindakan itu ialah menutup kantor Aeroflot di Jakarta sejak 15 Februari 1982. Dalam pesawat terakhir Sabtu Finenko dan keluarganya meninggalkan Indonesia. Bersama kepala kantor Aeroflot ini, yang namanya tak tercantum dalam manifes daftar penumpang, juga terlihat G. Odariuk, diplomat yang menghalang-halangi petugas keamanan menangkapnya 6 Februari, ikut pergi. Kepergian Odariouk yang bertugas di Indonesia sejak 1977 sempat mengundang berita sensasi. Pers Barat menyebut, Odariouk pulang karena diusir. “Pemerintah Indonesia sama sekali tidak meminta apa-apa soal dia pada Kedubes Uni Soviet di sini,” kata Joop Ave. Untuk mem-persona non grata-kan seseorang, harus ada alasan yang kuat. Sedang keterlibatan Odariouk dalam insiden 6 Februari itu, sama sekali tidak memenuhi syarat untuk pengusiran. “Mungkin atasannya sendiri yang mengambil inisiatif,” kata Joop. Kini, tinggallah Soesdarjanto Beberapa pejabat keamanan menyebut ia ditangkap 4 Februari malam bersama Egorov di Restoran Jawa tengah, meskipun menurut sumber TEMPO yang dekat dengannya! Soesdarjanto diciduk sejumlah petugas dalam perjalanannya menuju kantor di Jawatan Hydrografi dan Oceanografi tanggal 4 Februari pagi. Tapi Kamis malam, beberapa petugas memang mendatangi rumahnya di kompleks perwira Angkatan Laut Cilincing dan menggeledah isi rumah. Sebuah radio merk Grundig dibawa. Kabarnya radio itu diberikan oleh seorang dari Perwakilan Kapal Rusia di sini sebelum pulang 3 tahun lalu. Istri dan ketiga putri Soesdarjanto sendiri baru mengetahui sang kepala keluarga telah ditahan tanggal 8 Februari. Beberapa petugas keamanan, menurut istrinya, meminta kiriman pakaian. Yang lebih meyakinkan lagi adalah pengumuman Norman Sasono yang menyebutkan Finenko dan Soesdarjanto akan diajukan ke pengadilan subversi tanggal 9 Februari. Soesdarjanto dengan tegas dituduh memberikan dokumen rahasia yang membahayakan keamanan. Beberapa kenalannya menyatakan terkejut, tak menyangka, bahwa laki-laki ini akhirnya bisa dituduh demikian

sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1982/02/20/NAS/mbm.19820220.NAS48093.id.html

~ by scharfcshutze on January 3, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: